[quote]Oleh: Mukhtaruddin, SH[/quote]

Sudah terlalu sering saya melihat dan mendengar kata-kata ACDK melalui berbagai jaringan, ada saja cerita tentang lembaga ini baik di media maya, Facebook, surat kabar dan lewat mulut ke mulut, saya tidak menyangka hal ini ternyata telah memikat saya untuk datang ke lokasi binaan mereka di Rambong Rapa’i, Gampong Jaba, Kemukiman Pinto Batee, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen.

Memulai perjalanan dari Kota Juang Bireuen pada Sabtu 22 September 2012 siang hari bersama Tarmizi Age (Mukarram) Pembina ACDK yang baru sekitar dua bulan pulang dari Denmark, dan Yusri (Dinas Perkebunan) Kabupaten Bireuen, adalah suatu kenangan. Karena inilah kali pertama saya menginjak kaki di Gampong Jaba sekalipun nama Gampong tersebut sudah saya ketahui telah lama.

Begitu melewati Pucoek Alue Rheeng sebuah kota yang menurut Tarmizi Age (Mukarram) mengibaratkan kota Pucoek Alue Rheeng ini hidup segan mati tak mau, kami membelok ke arah selatan melalui Gampong Dayah Mon Ara, Cot Kruet dan langsung ke Cot Pupoek. Di Cot Pupoek inilah Lembaga ACDK sedang melakukan panen jagung perdana, kami singgah untuk makan jagung rebus yang sudah disiapkan oleh teman-teman ACDK disebuah rangkang (gubuk) yang berada di lokasi kebun jagung yang sedang mereka panen.

Sebagai informasi, bahwa perjalanan kami menuju ke kawasan Cot Pupoek sedikit melelahkan. Kami harus melewati jalan yang saat ini sedang dikerjakan oleh ILo sebuah lembaga yang berada di bawah UN (United Nation) dan kelihatannya jalan tersebut di buat cukup bagus, sekalipun menurut cerita para petani di sana jalan ini hanya di buat pengerasan saja alias tidak di aspal. Namun demikian, menurut Bang Zakaria yang merupakan salah seorang petani dikawasan yang kami lewati, mengatakan bahwa jalan tersebut sangat bermanfaat bagi kami yang bertani, berkebun dan berternak di kawasan ini, apalagi jalan tersebut turut disertai dengan saluran dikiri kanan jalan yang sedang dipasang batu-batu kelapa, sehingga jika pun hujan turun badan jalan tidak akan bermasalah lagi.

Menuju kebun jagung binaan ACDK di wilayah Cot Pupoek bukanlah tanpa rintangan, setelah berbelok kiri dari jalan utama, kami harus melewati bukit-bukit dengan ruas jalan yang hanya lebar 2 (dua) meter. Kami juga harus melewati alur-alur kecil yang sedikit berair untuk sampai di sebuah lokasi yang terbentang luas binaan ACDK. Di jalan ini kami memang merasa sedikit kesulitan untuk memandu mobil yang kami tumpangi karena jalan tersebut selama ini hanya dilewati kenderaan roda dua. Kalau jalan ini bagus, minimal dilakukan pengerasan saja, saya rasa petani pasti sangat gembira, apa lagi jika di aspal, seloroh Tarmizi Age (Mukarram) Putra Alue Sijuek yang pernah memimpin Perkumpulan Masyarakat Aceh Sedunia (WAA) di luar negeri.

Yang begitu menyenangkan sampai saat kami tiba di rangkang, ketua ACDK Saifuddin A. Gani dan beberapa anggota kelompok binaannya sudah menunggu kedatangan kami sejak pukul dua belas siang. Mereka begitu terharu disaat kami sampai dirangkang dan saifuddin mengatakan, bang Mukhtar panggilnya, ”katroek neuh keunoe ukeuboen kamoe, adak meudeh neumee manok-manok meudua boh nak tataguen disinoe tapajoeh rame-rame (udah sampai dikebun kami, maunya bawalah ayam barang dua ekor biar kita masak disini dan kita makan ramai-ramai),” ucapnya dalam nada canda.

Setelah itu dia langsung mempersilakan kami untuk menikmati jagung rebus yang telah disiapkan, kami tentunya tidak melepaskan peluang yang jarang-jarang didapatkan ini, potretpun mulai berkedap-kedip, indah sekali memang kawasan yang di penuhi dengan jagung dan pisang binaan lembaga ACDK, tidak hanya itu, mereka turut menanam halia, kakao dan jeruk nipis di sana, mereka bekerja penuh semangat dengan harapan lahan-lahan yang telah di buka bisa menjadi kebun yang menghasilkan pendapatan yang lumayan dan bisa ikut memberi peluang pekerjaan bagi masyarakat yang punya keinginan untuk itu, kisah Tarmizi Age (Mukarram) sambil terus mengunyah jagung yang manis di bawah rangkang disertai sekali-kali juga menikmati rokok kretek Gudang Garam Merah yang kami beli saat diperjalanan.

Kini waktunya sudah agak sore dan tidak begitu lama lagi menjelang malam, kami mulai merapatkan diri ke mobil setelah mengisi jagung dalam karung sebagai bungong jaroe (buah tangan) dari teman-teman ACDK. Kini mobil mulai berputar arah melanjutkan perjalanan ke kebun kuyun (jeruk nipis) yang dipadukan dengan pisang ayam yang saat ini sudah dalam tahap mulai panen.

Sekira jarum jam menunjuk pukul enam sore, kami tiba di lahan Jeruk Nipis dan Pisang. Sungguh suatu hal yang tidak kami sangka, kok bisa ada kebun yang bagus disini, ini adalah suatu kerjaan yang luar biasa yang dilakukan ACDK yang pimpinannya masih orang-orang muda. Tapi itulah sebuah perjalanan hidup yang kadang kala berjalan tidak seperti yang diimpikan, di sana kami menyaksikan jeruk nipis yang begitu subur, pisang-pisang yang memiliki tandan yang besar dan sisirnya juga banyak, membuat lelah kami semakin tidak terasa.

Menurut Saifuddin A. Gani, kesuksesan yang diraih ACDK saat ini tak terlepas dari peran dan ketangguhan Tgk. M.Yani Ridwan sebagai kepala urusan lapangan dan Suryadi sebagai kepala urusan pemasaran.

Untuk mengenang sejarah para gerilya ekonomi ACDK, kami abadikan beberapa foto minimal menjadi sebuah catatan kenangan di kemudian hari, berdasarkan apa yang disaksikan tentunya mereka ini potensial muda yang akan menjadi pelopor ekonomi kerakyatan yang sejati.

Begitu kami selesai diberikan oleh-oleh berupa beberapa tandan pisang di kebun Ramboeng Rapa’i binaan ACDK dan matahari juga sudah terbenam. Lalu Saifuddin A. Gani terus mengajak kami kembali ke Kota Juang. Kami pun meninggalkan kebun binaan ACDK di Gle Ramboeng Rapa’i dengan dipandu ketua ACDK yang mengendarai trail gunung yang merupakan salah satu kenderaan operasional mereka. Trail yang tidak berlampu terus menuju jalan besar yang melewati Gampong Cot Kuet.

Berhubung karena waktu sudah malam kami tidak lagi singgah di Alue Sijuek yang bagi ACDK, gampong tersebut dijadikan sebagai gampong sebagai tempat penyebaran ide-ide gerakan pembangunan ekonomi Aceh sesuai kemampuan mereka.

Perjalanan kami teruskan menuju Kota Bireuen, karena Tarmizi Age (Mukarram) salah seorang penggiat yang juga rajin menulis sekaligus pembina ACDK, perlu mengirimkan tulisan-tulisanya ke beberapa media, maka kami bersepakat memilih Warkop Startblack Coffee Shop yang ada di Kota Bireuen untuk menikmati sedikit kopi espresso.

Terakhir sekali, apa pun tulisan yang saya paparkan di sini dengan harapan kita semua bisa terpanggil mengikuti jejak lembaga ACDK menjadi gerilya ekonomi sekalipun dengan teknis yang berbeda.[]

Mukhtaruddin SH adalah Peminat Pertanian di Aceh

KOMENTAR