Oleh: Muhammad Ali

Bahwa beberapa jenis masakan khas Aceh telah dikenal di seantero Tanah Air, beberapa di antaranya yang paling popular seperti gulai pliek atau mi Aceh dengan ciri khas saus kental maupun kari kambing, harus diakui telah ikut memperpanjang daftar keaneragaman masakan khas Tanah Air.

Namun dari jenis-jenis yang sudah dikenal itu, jika ditelusuri di dalam daftar jenis masakan khas Aceh ternyata masih banyak lagi jenis masakan spesifik dari daerah-daerah tertentu di Provinsi Aceh yang selama ini masih berada di dalam catatan “kekayaan terpendam” karena belum begitu dikenal luas. Dengan keistimewaan cita rasa maupun keunikannya, masakan-masakan yang belum begitu dikenal luas itu diperhitungkan akan mampu mengambil tempat di dalam daftar masakan populer.

Dari banyak daerah yang masing-masing memiliki makanan khas itu, tersebutlah Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan yang diketahui memiliki berbagai jenis masakan khas yang akhir-akhir ini mulai dikenal. Di antaranya, ikan panggang khas yang di Tapaktuan dikenal dengan nama lauk panggang pacak (ikan panggang bumbu santan), lauk sambam (ikan panggang bungkus daun pisang yang disantap pakai sambal kecap).

Ada lagi, gulai talas, gulai pakis, gulai pakasam (gulai tempoyak) maupun gulai durian segar serta urap Aceh dengan bahan dasar bunga dan daun kates dengan formula kelapa gongseng dibumbui rajangan serai, belimbing wuluh serta bawang merah. Dan untuk jenis sambal, yang paling populer adalah samba batokok dan samba gunung runtuh.

Menggugah Selera

Samba batokok adalah sambal ikan teri kering gongseng yang dimemarkan seperlunya di batu gilingan cabe dengan bumbu dasar asam sunti, cabe merah, bawang merah yang dihaluskan kemudian ditumis. Uniknya samba gunung runtuh ternyata begitu sederhana hanya dengan bahan dasar kelapa parut dicampur cabe hijau atau cabe merah. Dan bila ditempatkan di dalam wadah, kelapa parut yang sudah diolah menjadi sambal yang menggugah selera itu bentuknya mirip onggokan gunung. Dan “gunung” itu kemudian runtuh ketika diciduk pakai sendok, maka disebutlah dia samba gunung runtuh.

Menurut seorang dosen Akademi Pariwisata (Akpar) Medan, Kodrat Wisnu, selama beberapa kali berkunjung ke Tapaktuan dirinya mengaku ada beberapa jenis masakan khas Tapaktuan yang memiliki potensi untuk ditonjolkan dan berpeluang disusupkan di dalam daftar kekayaan wisata kuliner. Dan jika ini mampu dieksploitasi, artinya Tapaktuan tidak hanya memiliki kekayaan objek wisata alam yang indah, tapi juga pengunjung sekaligus dapat menikmati aneka jenis masakan nikmat.

Kodrat Wisnu yang populer dengan panggilan Babe mengungkapkan itu ketika melakukan kunjungannya ke Lhok Rukam April lalu dalam misi Akpar melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat bersama tujuh dosen lainnya.

Akpar Medan menilai Gampong (desa) Lhok Rukam merupakan satu dari banyak objek menarik di Kecamatan Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan, yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daerah kunjungan wisata. Menurut Babe, potensi Lhok Rukam cukup bagus dan diyakini memiliki prospek, tinggal lagi apa yang harus dilakukan untuk menarik orang berkunjung ke sini. Ya salah satunya adalah wisata kuliner, apalagi Lhok Rukam merupakan desa nelayan yang setiap harinya dibanjiri ikan segar. “Ikan ikan itu bisa diolah sebagai bahan dasar masakan khas,” katanya.

Populer di Luar Negeri

Menurutnya, dia punya kesan tersendiri terhadap samba gunung runtuh dan samba batokok yang digemarinya. Dalam beberapa kali kunjungan ke Tapaktuan, selalu saja sambal itu yang dia cari dan sering didapati di Lhok Rukam.

Namun yang mengagetkan adalah, pada beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Vietnam, dia juga mendapati samba gunung runtuh dan samba batokok di sebuah rumah makan di kota Ho Chi Minh. “Dan di rumah makan tersebut, sambal ini ternyata mendapat tempat sebagai masakan populer yang digemari pelanggan,” ungkapnya.

Ini membuktikan dua jenis masakan khas Tapaktuan itu diam-diam ternyata sudah dikenal pula di luar negeri. Berangkat dari kenyataan ini, dia semakin yakin bahwa kedua jenis sambal spesifik itu berpeluang mendapat tempat di dalam daftar bisnis kuliner melengkapi paket-paket kunjungan wisata Tapaktuan di masa depan. Babe benar dengan keyakinannya yang rasional.

Namun pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Dinas Pariwisata Aceh Selatan mampu berpikir dan berbuat untuk pengembangan wisata model begini. Sekarang saja orang mulai pesimis melihat beberapa proyek wisata yang digarap Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) terancam gagal dengan dana milyarar akibat tanpa konsep yang jelas.

Lalu, menurut para pemerhati, seperti diungkapkan Drs. Joniardi Yunus, rumusan yang paling tepat sebetulnya adalah soal mau atau tidak mau. Jika mau, tentunya harus dibekali niat baik dan ikhlas demi kemajuan daerah dan perkembangan ekonomi kemasyarakatan. “Sayangkan, miliaran rupiah uang terbuang begitu saja tanpa jelas kelanjutan programnya,” ungkap Joniardi. (analisa)

KOMENTAR