Tabanan — Hiruk pikuk Hari Pahlawan tak pernah dirasakan oleh Ni Ketut Nandri (45), pencari batu laut di pesisir Pasut, Desa Tibubiu, Kerambitan. Wajar saja, perempuan ini hanya menghabiskan waktunya di pantai setiap hari. Demi menopang ekonomi keluarga, dia nekat berjibaku dengan ombak dan terik matahari.

Nandri melakoni pekerjaan itu cukup lama. Maklum, penghasilan suaminya sebagai buruh tani hanya pas-pasan. Dia pun nekat terjun ke pantai bersama wanita lain untuk mengais rezeki berburu batu pantai. Jika beruntung, dalam sehari, dia mampu meraup penghasilan hingga Rp 20.000. Namun, saat apes, dari pagi hingga sore, tak satu pun batu yang dipungutnya dilirik pengepul.

”Saya sudah seharian di sini, tetapi batunya belum ada yang beli. Tidak ada mobil datang,” keluhnya saat ditemui di pesisir, Sabtu (10/11) kemarin.

Panas yang menyengat dan deburan ombak menjadi makanan sehari-hari. Nandri bersama sejumlah wanita lainnya memulai pekerjaannya sekitar pukul 09.00 wita dan berlanjut hingga sore. Namun, jika ombak mengganas, mereka terpaksa libur.

Selain berjibaku dengan ombak, Nandri juga harus menyeberang sungai untuk mengangkut batu hasil pungutannya ke tepi pantai. Meski harus berbasah kuyup, dia tetap semangat. Sebab, dia menjadi tulang punggung bagi ekonomi keluarga.

Dialah pahlawan bagi keluarganya. Nilai-nilai kepahlawanan tak hanya berwujud atau didapat lewat perang melawan musuh. Perjuangan keras, tanpa menyerah dan bertekad terus maju adalah nilai universal kepahlawanan yang ditunjukkan oleh seorang Nandri.

Uang hasil penjualan batu bisanya digunakan membeli sembako dan kebutuhan sehari-hari. Menurut Nandri, penghasilan suaminya dari sawah tak bisa dipastikan. Apalagi, ketika musim kemarau. Padahal, kebutuhan keluarga tak bisa ditunda. Tak hanya Nandri, perempuan lain yang menjadi pahlawan keluarga adalah Ni Ketut Nuraini.

Wanita ini juga nekat turun ke laut karena desakan kebutuhan ekonomi. Dengan tenaga semampunya, dia memungut batu, lalu diangkut dengan dijunjung di kepala. Tak jarang, dia harus merasakan sakit akibat terlalu berat mengangkat batu.

Sebab, jika hasil batunya tak banyak, pendapatan yang diterima juga minim. ”Ini semua demi keluarga,” katanya. Sungguh, perjuangan pahlawan yang layak diberikan penghargaan. (balipost.co.id)

KOMENTAR