Moskow — Rusia mengumumkan negara itu menandatangani kontrak penjualan senjata ke Irak senilai lebih dari US$4,2 miliar, antara lain meliputi penjualan helikopter tempur dan rudal darat ke udara.

Kepastian tersebut terungkap dalam dokumen yang diterbitkan pada hari Selasa (09/10) dalam pertemuan antara Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki di Rusia.

Dengan penandatanganan ini maka Rusia sekarang menjadi pemasok senjata terbesar kedua ke Irak setelah Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan Saddam Hussein, Rusia merupakan pemasok utama senjata ke Irak.

Media Rusia melaporkan kontrak penjualan senjata meliputi 30 helikopter tempur Mi-28NE dan 42 sistem rudal darat ke udara Pantsir-S1.

Pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah perundingan antara Perdana Menteri Irak dan Perdana Menteri Rusia menyebutkan kontrak penjualan senjata disepakati beberapa waktu lalu.

Mencari dukungan

Irak mengirim degelasi, dipimpin antara lain oleh Menteri Pertahanan Saadoun al-Dulaimi ke Rusia pada April, Juli, dan Agustus lalu.

“Anggota delegasi mempelajari pembuatan senjata militer Rusia, membahas masalah teknis dan opsi komersial dari penawaran yang diajukan oleh perusahaan negara Rosoboronexport, dan menandatangani kontrak senilai lebih dari US$4,2 miliar,” demikian bunyi pernyataan bersama.

Beberapa laporan menyebutkan Rusia sedang mencari dukungan di kawasan Timur Tengah ketika sekutunya, Suriah, terjebak dalam konflik internal.

Industri pertahanan Rusia kesulitan menjangkau pasar Irak setelah invasi pimpinan Amerika Serikat ke Irak pada 2003 yang akhirnya menggulingkan Saddam Hussein. Presiden Rusia Vladimir Putin menentang keras invasi tersebut.

Ruslan Pukhov, Direktur CAST, lembaga kajian masalah keamanan dan pertahanan Rusia, mengatakan setelah Saddam Hussein dijatuhkan, tampaknya Irak hilang selamanya sebagai konsumen senjata Rusia.

“Kontrak ini luar biasa,” kata Ruslan Pukhov seperti dikutip kantor berita Reuters. (BBC Indonesia)

KOMENTAR