Banda Aceh — Sanggar Lembah Gunung Piatu atau dikenal dengan sebutan Lempia terus persiapkan diri menyambut acara Piasan Seni Banda Aceh 2012, yang dimulai Rabu (28/11) di Taman Sari, Banda Aceh.

Koordinator Sanggar Lempia, Zufli Hermi mengatakan sejauh ini sanggar binaannya telah melakukan berbagai kesiapan untuk mengisi berbagai rangkaian acara di Piasan Seni.

“Sudah 2 hari 2 malam ini anggota sanggar sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan sejumlah koleksi foto dari berbagai kegiatan yang pernah diikuti selama ini untuk ditampilkan di stand Lempia di Taman Sari nanti,” jelas Zufli yang dikenal dengan sebutan Syeh Emi.

Tidak hanya itu, Sanggar Lempia juga akan menampilkan benda-benda sejarah serta beberapa peralatan yang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Aceh akibat tergerus oleh teknologi, seperti ambong dan lusung.

Untuk penampilan sendiri, Syeh Emi menyebutkan, Sanggar Lempia siap tampil karena latihan 3 kali rutin setiap minggu. “Untuk persiapan seperti biasanya kami tidak ada latihan khusus. Kami sudah membudayakan latihan 3 kali seminggu. Jadi kami sudah siap tampil,” ujarnya.

Sanggar Lempia juga telah dijadwalkan tampil dengan membawakan Tari Peumulia Jamee di Opening Ceremonial malam Kamis (28/11) nanti serta Tari Seudati Inong di malam Sabtu (1/12) dan Tari Ratoh Trieng di puncak penutupan nantinya.

Syeh Emi juga mengatakan adanya gelaran Piasan Seni ini tentu menjadi hal yang positif, karena dia menilai selama ini banyak para seniman tidak tahu kemana harus memamerkan karyanya, kalau buka acara sendiri tentu butuh biaya.

“Dengan acaranya ini, saya sangat bersyukur bisa menambah semangat para seniman untuk bisa terus konsisten menampilkan karyanya. Setidaknya kita masih bisa menerangkan budaya atau tradisi yang sudah tertinggal dan bisa diperkenalkan kembali pada masyarakat luas,” tuturnya.[]

[accordion title=”Tari Peumulia Jamee”]
Menceritakan seorang putri raja yang tidak dibiarkan sendiri dan harus dikawal oleh orang kepercayaan, yaitu 2 dari mereka yang memegang pedang untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti jangan sampai ada orang asing menyusupkan atau membubuhkan racun dalam sirih. (Jumlah yang tampil 7 perempuan, 4 Laki, dan 7 pemusik)
[/accordion]
[accordion title=”Tari Seudati Inong”]
Dulunya dimainkan oleh perempuan. Namun setelah mulai berkembangnya Islam di Aceh, para nenek moyang tidak mengizinkan lagi dimainkan oleh perempuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti, Perempuan yang melenggak-lenggok akan menimbulkan nafsu lelaki. Dalam Islam sendiri perempuan juga dilarang memperdengarkan suara yang menimbulkan nafsu, apalagi menggunakan microfon. (Jumah yang tampil 8 penari, dan Vokal 2 orang)
[/accordion]
[accordion title=”Tari Ratoh Trieng”]

Tari garapan (tari kreasi) yang akan ditampilkan di malam terakhir. Pesan yang tersirat di tari ini adalah untuk mengangkat atau mengingat jasa bambu yang sudah ditinggalkan masyarakat dengan mengangkat “kisah bambu”.[/accordion]

KOMENTAR