Alam telah menganugerahkan sesudut desa Pu’uek dengan pohon-pohon rumbia yang tumbuh di rawa-rawa dalam kawasan antara perbatasan kampung dan areal persawahan. Bila warga di sana mengharapkan pohon-pohon rumbia tersebut akan menghasilkan buah di tiap musimnya bagai beberapa tahun lalu, itu tak akan terjadi lagi kini.

Muzakir Abed, 36 tahun, salah seorang tokoh muda dalam masyarakat kampung Pu’uek mengatakan, “Sekarang akibat pengaruh radiasi medan listrik dari tower-tower PLN (Pembangkit Listrik Negara) dan pengaruh gelombang signal telepon seluler, maka semua pohon-pohon rumbia tidak akan lagi menghasilkan buah. Secara ilmiahnya saya tidak tahu bagaimana menerangkan hubungan sebab-akibat itu. Konon kata orang, begitu.”

Lanjut Muzakir, sekarang lihatlah di pasar-pasar, orang berjualan buah rumbia nyaris tidak terlihat lagi di kaki-kaki lima. Begitu juga bagi penjual rujak, buah rumbia tidak lagi menjadi salah satu pelengkap pada adonan lincah/nicah itu. Kata Muzakir, setiap kali ditanya pada sang penjual, “Pakon hana neucang boh meuria lam lincah droeneuh? (kenapa tak ditaruh cincangan buah rumbia dalam rujak anda?)” Maka rata-rata jawaban mereka, “Meuria ka tinggai bak, hana lee boh (sekarang yang namanya rumbia hanya tinggal batang, tidak lagi berbuah)”

Dari buah rumbia yang ada di rawa-rawa tepian desa, beberapa warga di Gampong Pu’uek, Kembang Tanjong, Pidie, itu mengaku di setiap musimnya mereka bisa menjadikan buah itu sebagai penambah penghasilan keluarga, baik dengan cara dijual langsung ke penampung atau dipeujruek dulu agar bisa dijual lebih mahal. Tetapi sejak lima tahun terakhir, saat rumbia tak lagi berbuah, satu sumber penambah denyut dapur mereka yang rata-rata masih berkehidupan sederhana sebagai petani kecil, telah sirna. Jika benar seperti analogi Muzakir yang pernah delapan tahun malang-melintang di berbagai profesi di perantauan Jakarta, maka seperti kata dia sendiri, “Kemajuan tekhnologi telah membuat rujak kehilangan variasi rasa, yaitu rasa kelat buah rumbia.”

Tetapi bagi Azizah Rahman, 52 tahun, salah seorang warga kampung itu yang hamparan tumbuhan pohon rumbia hanya terpaut belasan meter dari batas halaman belakang rumahnya, bagai berlaku prinsip, “Tak ada buah, daun pun bisa.” Dengan aktivitasnya sehari-hari merajut daun rumbia sampai menjadi lembaran-lembaran atap rumah yang dijual tiga sampai lima ribu rupiah per lembar, perempuan tersebut bisa meraup pendapatan Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu rata-rata perhari.(*/musmarwan abdullah)

KOMENTAR