Denmark — World Acehnese Association (WAA) atau p menegaskan Pemerintah Aceh kedepah haruh meu Aceh, seperti yang dimuat sebelumnya di SeputarAceh.com, Senin (25/6) tadi menjadi hari bersejarah di Aceh atas hadirnya pemimpin baru, Gubernur ke-23.

Lama sudah Aceh hidup di pimpim oleh teuku-teungku Aceh dari masa ke semasa namun perubahan Aceh belum juga mampu berubah untuk mencapai kejayaannya dan memperjuankan nabib bangsanya untuk meraih kehidupan yang setara sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia.

Entah sebab apa dan siapa yang patut di persalahkan? Mungkin saja memang boleh kita katakan Aceh selalu dikotak katikkan oleh penjajah tapi menurut data sejarah yang pimpin Aceh orang Aceh itu sendiri, bukan bangsa Asing atau sebaliknya orang Aceh itu sendiri yang sudah menjadi penjajah dan tega menjajah bangsanya sendiri.

Kalau memang ini yang terjadi memang sungguh di sayangkan nasib Aceh yang selalu mencul dalam pribahasa ”luka lama kambuh kembali”.

Dalam urutan ke-22, Gubernur Aceh terpilih atau pemimpin kepala pemerintah Aceh yang baru pun termasuk orang yang lumayan lamanya telah bergerilia, mulai turun gunung hingga ke Europa yang selalu mengampanyekan dan mengatakan ingin memperjuangaka nasib bangsa Aceh kedepan sesuai dengan visi perjuangan Aceh Merdeka (GAM).

Gorden lama boleh di ganti dengan yang baru, namun prinsip perjuangan yang sudah lama tertanam dalam jiwa sang mantan mentri luar negeri Gerakan Aceh Merdeka, dr Zaini Abdullah dan sang mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka, Muzakir Manaf (Mualem) jangan cepat diabaikan.

Yang sudah siap dengan stelan baju baru, jabatan baru, kursi baru, terpasang di rumah dinas wagub kembali dilepas dan dipasangkan di Rumah Eropa (Europe House) untuk menyambut kedatangan para duta besar atau anggota corps diplomatic.

Meninggalakan Aceh yang masih di persimpangan. Meninggalkan pekerjaan rumah yang belum selesai. Pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab para pemuda yang merupakan cikal bakal pempimpin bangsa di masa mendatang.

Tidak dimungkiri menciptakan tokoh sekaliber Hasan Tiro bukan hal gampang. Namu kita percaya, suatu hari nanti Aceh pasti akan melahirkan Hasan Tiro-Hasan Tiro muda yang lebih fenomenal.

Aceh telah pulih, perlahan namun pasti ruang mengeskpresikan segala potensi diri telah terbuka lebar. Saatnya kaum muda Aceh mengambil bagian dalam upaya membangkitkan jiwa-jiwa ketokohan yang mungkin selama ini masih terpendam. Sudah saatnya kaum muda meraba-raba, merasa-rasa, bertanya pada diri masing-masing, “Akukah Hasan Tiro berikutnya?”

“Ketika yang dipercayakan sebelumnya ternyata masih jauh dari harapan menjalankan MoU Helsinki dan UU-PA, maka kami tak bisa membiarkannya. Karena itu, kami bertanggungjawab melanjutkan perdamaian dan merealisasi MoU Helsinki dan UU-PA untuk kesejahteraan rakyat Aceh. Itu target kami selama lima tahun menjabat,” tegas Zaini. (rilis pers)