Sebaran gempa utama dan gempa susulan
Sebaran gempa utama dan gempa susulan

Tim Ahli Gempa Dr. Irwan Meliono dan tim, sejak kamis (12/4) berangkat ke lokasi gempa 11 April 2012 lalu untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi dalam gempa yang menurut para ahli adalah termasuk gempa Unik. Tim ini murni dari Tim ahli Gempa kita yang memulai tradisi baru untuk memimpin setiap riset pasca gempa-gempa yg besar.

Selama ini lebih banyak ahli kita hanya mendampingi periset asing yang datang dan tertarik meneliti gempa yang terjadi. Kita akan memulai di masa tanggap darurat bukan saja mengirimkan bantuan pertolongan, tetapi juga tim ahli diturunkan untuk meriset gempa yang terjadi.

Gempa pada 11 April 2012 di lepas pantai barat Aceh dengan magnitudo 8.5 Mw pada kedalaman 22.9 Km tidak terjadi pada bidang pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, akan tetapi terjadi pada zona rekahan (fracture zone) di dekat Ninety East Ridge (NER) Samudra India.

Gempa tersebut digolongkan sebagai gempa kembar karena menghasilkan dua gempa dengan magnitudo lebih dari 8Mw, dan mekanisme fokus keduanya adalah strike slip. Rangakaian gempa kembar itu diawali dengan gempa pada 10 Januari 2012 magnitudo 7.4 dengan mekanisme fokus yang sama. Gempa tersebut tergolong bukan gempa biasa, terjadi di outer rise dengan mekanisme strike slip.

Magnitude lebih dari 8Mw baru kali ini terekam di lepas pantai barat Aceh, akan tetapi gempa dengan kekuatan kurang dari 8Mw dengan mekanisme fokus strike slip pernah beberapa kali tercatat.

Sejak 12 April 2012 sesaat setelah gempa sampai dengan 18 April 2012 sudah terekam 117 kali kejadian gempa dengan magnitude lebih dari 4.5 Mw (USGS). Hal tersebut berarti aftershock masih terus berlansung dan secara perlahan menuju fase post-seismic. Aktivitas post-seismic setelah gempa kembar pada 11 April 2012 menjadi informasi penting untuk dipahami, karena post-seismic akibat Gempa Aceh 2004 masih berlangsung.

Sehingga ada beberapa permasalahan yang perlu dijawab berkenaan dengan gempa yang terjadi pada 11 April 2012 yaitu: Bagaimana karakteristik sumber sesar geser yang terbentuk di fracture zone dekat Ninety East Ridge (NER) Samudra India? Seberapa besar pola deformasi post-seismic yang terjadi? Bagaimana pengaruhnya terhadap regangan tektonik pada bidang kontak lempeng dan juga di daratan Aceh?

Gambar 2. Pergeseran horizontal koseismik dari gempa Aceh serta distribusi slip hasil inversi. (Irwan dkk, 2006)
(Gambar) Pergeseran horizontal koseismik dari gempa Aceh serta distribusi slip hasil inversi. (Irwan dkk, 2006)

Gambar (a) memperlihatkan besar dan arah dari pergeseran koseismik sebagai akibat dari gempa Aceh tahun 2004. Sebaran dan besaran pergeseran horizontal memberikan indikasi awal bahwa distribusi slip pada bidang gempa tidaklah homogen. Sebagai contoh, titik pengamatan yang paling dekat dengan episenter berjarak 100 km, mengalami pergeseran sebasar 1.9 meter. Semantara titik pengamatan yang berjarak 300 km dari episenter pada arah yang lain mengalami pergeseran sebesar 2 m.

Hasil inversi dari data GPS (b) memperlihatkan bahwa terdapat dua area, dengan besaran slip yang maksimum. Yang pertama yaitu pada wilayah yang berjarak 100 ke arah selatan dari hiposenter besarnya slip mencapai 20 m. Hal ini konsisten dengan bukti adanya kenaikan di pantai utara dari Pulau Simeulue. Yang kedua yaitu di pantai barat aceh, besarnya slip mencapai 25 meter. Dan slip ini kemungkinan berkaitan dengan terbentuknya tsunami yang sangat tinggi di pantai barat Aceh.

Untuk itu salah satu cara untuk menjawab permasalahan di atas adalah dengan melakukan pengamatan dilapangan dengan memanfaatkan teknologi GPS kontinyu dan episodik untuk mengetahui besaran vektor pergeseran yang terjadi setelah gempa 11 April 2012 dan regangan tektonik yang terjadi.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini mempunyai beberapa tujuan utama, yaitu : 1) Memahami karakteristik sesar di fracture zone; 2) Seberapa besar deformasi post-seismic yang terjadi; 3) Implikasi dari pergeseran koseimik dan postseismik gempa Aceh, dikaitkan dengan transfer dari stress terhadap segmen utara dari Sistem Patahan Sumatra.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif terhadap potensi bahaya kegempaan di Pantai Barat Sumatera. Hasil penelitian ini juga dapat jadi masukan bagi Pemerintah dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dengan mempertimbangkan mitigasi bencana gempabumi.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap sains dan teknik yang terkait dengan studi aktivitas patahan aktif untuk mitigasi gempa, serta dapat membuka cakrawala baru bagi penelitian pemantauan gempabumi di masa mendatang. (har/sigap)

KOMENTAR